Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Sunday, 13 January 2013

~ Kucingku Masih Hidup ~


“Aku mau jadi pacar kamu asal... kucingku sudah mati”

"HAH?!!!"

Alan terperanjat mendengar kalimat itu. Bagaimana tidak? Setahun ini mengejar cinta Nadin tetapi akhirnya jawaban itu yang ia dapat ketika menyatakan perasaannya.

“Haha, maksud kamu apa Nad?”, masih menganggap kalimat Nadin itu guyonan dan sedang salah tingkah ditembak seorang lelaki.

“Kamu pikir aku main-main? Lebih baik kamu pulang dan tunggu sampai Lis mati”, jawab Nadin  melemparkan senyumnya kepada Alan yang masih mematung dengan seribu pertanyaan di kepalanya.

***

Saturday, 29 December 2012

ANAK KAMPUNG (bagian ke-1)

 "Akan kukenalkan kau kepada hal-hal yang tak dapat kau temui di tempatmu"

Aku terlahir ‘sungsang’ sepuluh tahun lalu. Konon kata nenekku di kampung, anak yang lahir demikian akan membawa kelebihan yang tak disangka-sangka. Benar saja. Aku memiliki kelebihan merawat gigi dengan baik. Setidaknya aku adalah bocah sepuluh tahun yang tidak senang makan permen, coklat, gula-gula atau apapun yang akan merusak gigiku. Aku lebih senang nyemil wortel yang kandungan vitamin A nya begitu tinggi. Terlebih aku membutuhkannya untuk kesehatan mataku. Betapa tidak? Diusiaku yang terbilang dini atau sebut saja, bocah, aku sudah mengenakan kacamata dengan ukuran minus dua di kedua mataku. Tetapi, kusebut itu sebagai kelebihanku yang lain. Karena mataku yang minus itu adalah hasil dari kebiasaanku menghabiskan seharian hidupku dengan membaca buku. Buku terakhir yang aku baca adalah The Red Pyramid karya Rick Riodan. Aku bahkan memiliki akun goodreads untuk mencari referensi buku-buku terbaik dan memiliki ratting tinggi. Beruntung, Ayah dan Ibu tidak pernah menolak memberiku uang untuk membeli buku-buku yang terhitung mahal harganya, meski sebenarnya angka sepuluh adalah usia yang terlampau muda—yaa kau dapat sebut aku bocah—. IYA, terlampau muda jika kau memandangnya hanya sebatas deret hitung. Kulakukan semua tanpa paksaan, hal itu muncul begitu saja seperti suatu hobi anak-anak pada umumnya. Sama saja dengan Ola—sepupuku, anak bibiku yang rumahnya tidak jauh dari sekolahku—yang senang bermain boneka barbie sampai lupa mengerjakan PR. 

“Mulya, kenalkan ini Heri dan Gugun”. Dua orang anak seusiaku sedang berdiri disamping nenek dengan seragam lecek dan wajah dicucuri keringat. Biar kutebak, mereka habis bermain bola di lapangan becek tak jauh dari rumah nenek. Kemeja putihnya nyaris berubah warna menjadi krem kecoklatan. Satu anak berambut galing membawa bola kempes dan satunya lagi membawa keranjang berisi gorengan buatan nenek yang akan dijual di warung milik salah satu orangtua dari mereka.

“Halo. Habis pulang sekolah, ya?”, kulontarkan pertanyaan yang sebetulnya aku sudah tahu jawabannya. Mereka berdua mengangguk dan mengajakku bermain bola bersama. Aku ragu sampai nenek mengijinkanku pergi. Bagaimanapun, aku senang bermain bola. Bahkan tak mau ketinggalan setiap pertandingan tim favoriktu, Real Madrid. Tadi malam saja aku begadang menonton pertandingan madrid melawan barcelona.

“Cup! Ada anak baru, nih!”. Seperti dalam film berbau vandalisme saja mereka ini. Ketika ada orang baru maka si anak buah akan melapor kepada ketua gank mereka. “Kenalin diri dulu sana, Mul!”. Gugun—si anak dengan bola kempes—memintaku memperkenalkan diri. Aku dengan naluri bocahku tersenyum memamerkan deretan gigiku yang putih bersih kepada mereka, “Cakra Mulya. Nama aku Cakra, cuma sering dipanggil Mulya”. Si anak yang dipanggil Cup dan kucap sebagai ketua gank kelompok ini menatapku tajam, seperti polisi yang hendak menginterogasi penjahat, dan aku penjahat kelas teri yang baru saja maling anak ayam di rumah warga.